11 HARI MENIKAH

Bagian pinggir bibirku terasa sakit. Begitu kupegang, ternyata berdar4h. Aku ingin menangis sebenarnya, tetapi kutahan. Jangan sampai hal ini semakin menambah rasa bersalah di hati ibunya Athar. 

***

"Siapa namamu, Nak?" 

Dalam ruang rawat ini, tersisa kami berdua. Buah-buahan yang kubawa tadi kuletakkan di meja. Aku duduk di kursi yang terdapat dekat ranj4ng yang ibunya Athar tempati.

"Chelsi, Bu." 

"Chelsi?" Wanita tersebut berucap pelan. 

"Nama yang cantik, secantik orangnya," ujarnya kemudian. 

Mendengar itu, aku tersenyum tipis. "Ibu bisa aja." 

"Kenyatannya memang seperti itu." 

Aku paham ibunya Athar kelihatannya tidak baik-baik saja. Ia memang memperlihatkan senyuman, tetapi tatapan itu tampak sendu. Bagaimana tidak?

Istri mana yang tak sakit hati usai dit4mpar oleh suaminya di depan wanita yang merupakan istri kedua. 

Tamp4ran di wajah ibunya Athar tak sekeras tamp4ran pada wajahku. Syukurlah, di bagian pinggir bibirnya tidak terluka seperti yang kudapatkan ini. 

"Terima kasih, ya, Nak Chelsi. Terima kasih kamu sudah membela saya tadi. Rupanya Athar pandai mencari calon istri. Kamu gadis yang baik." 

Perkataan ibunya Athar membuatku tertunduk. "Saya sudah pernah menikah, Bu. Dan pernikahan pertama saya gagal." 

Kukatakan terus terang. Tak ingin menutupi mengenai statusku yang sebenarnya. Selang beberapa detik kemudian, kurasakan genggaman seseorang pada telapak tanganku. Genggaman yang terasa hangat.

"Tidak apa-apa. Semua pasti tidak mudah bagimu. Saya mengerti, dan hal itu tidak mengubah sudut pandang saya sedikit pun." 

Ibunya Athar kelihatan begitu tulus. Mataku berkaca-kaca. Terharu pada penerimaan yang ia tunjukkan secara terbuka. 

"Ya ampun, Nak. Bibirmu ...."

"Nggak apa-apa, Bu. Nggak begitu sakit. Dan sebentar lagi pasti bakalan sembuh." 

Di depan wanita ini, aku harus terlihat tegar. Ia lantas terdiam, memandangku dengan raut wajah yang sulit dibaca.

"Ibu!"

Sebuah suara membuat perhatianku teralihkan. Athar dengan mengenakan jas putih itu berjalan cepat menghampiri sang ibu. 

"Ibu nggak apa-apa?" 

"Iya, ibu baik-baik saja, Nak." 

"Ada yang melapor ke Athar, Bu. Katanya Ayah datang ke mari. Apa itu benar?" Athar tampak panik. 

Ibunya menanggapi dengan anggukan, membuat rahang pria itu mengeras. 

"Apa yang dia lakukan? Ada yang bilang, sempat terdengar bunyi keributan dalam ruangan ini." 

Pertanyaan Athar tak langsung mendapatkan jawaban. Ibunya mengarahkan pandangan padaku, sedang aku sendiri berusaha menutupi luka ini dengan duduk menyamping. 

"Kamu di sini, Chelsi? Sejak kapan?"  

"Sejak ayahmu menampar ibu, Athar." Wanita berjilbab putih itu berterus terang. 

Athar mematung di tempatnya. Ia tak mengatakan sepatah kata pun, tetapi hal itu justru terlihat mengkhawatirkan. 

"Chelsi membantu ibu, hingga t4mparan kedua itu tidak berhasil ayahmu jatuhkan, tapi Chelsi sendiri kemudian jadi sasaran. Ayahmu men4mparnya juga, Nak." 

Ibunya Athar menceritakan semuanya. Athar perlahan mendekat padaku. Tatapannya tertuju pada luka di bibir ini. 

"Athar!" 

Setelah mengetahui kenyataan yang ada, Athar melangkah cepat keluar dari ruang rawat, sambil menelepon seseorang.

"Athar," panggil ibunya, lagi. Namun, ia sama sekali tidak menggubris itu. 

"Bu, saya pergi dulu. Saya akan menyusul Athar." Aku segera pamit.

"Iya, Nak Chelsi. Tolong, ya. Tolong tenangkan Athar."

"Baik, Bu. Saya akan berusaha." 

Tanpa menunggu waktu lama, aku berlari mengikuti langkah Athar. Dia sangat cepat.

"Dok, berhenti!" Aku ingin berbicara setidaknya sebentar dengannya.

"Dokter." 

Percuma. Saat Athar memasuki mobil, aku pun melakukan hal yang sama. Mengejarnya menggunakan kendaraan roda empat berwarna hitam. 

***

Mobil Athar berhenti di depan sebuah rumah. Alisku mengernyit heran. Athar tak lagi mengenakan jas putih itu. Dia terburu-buru melangkah memasuki bangunan tersebut. Kuikuti sang pria dengan langkah tak kalah cepatnya. 

Brak! 

"Athar, apa yang kamu lakukan?!" 

Athar menendang meja ketika ayahnya sedang bersama dengan Tante Dini di ruang tamu. Pintu depan yang tidak terkunci membuat kami bisa masuk dengan mudah.

Oh, ternyata ini rumah mereka. 

"Chelsi," sapa mantan ibu mertua--Bu Endah. 

Tak hanya Bu Endah, di sini juga terdapat Mas Faiz, Hanna, serta keluarganya yang lain. Ya ampun, mereka tinggal serumah?

Vas bunga tak luput dari amukan seorang dokter yang memiliki amarah tinggi usai mengetahui ibunya telah dit4mpar oleh ayah kandungnya sendiri. 

"Athar!" bentak sang ayah. 

"Kenapa Ayah men4mpar Ibu?" 

"Ayah?" Mas Faiz mengernyitkan alis. Begitu pula Hanna. 

Tante Dini menjauh, bersembunyi di balik tubuh mantan ibu mertuaku yang merupakan kakaknya. 

"Kenapa pria ini memanggil Om dengan sebutan ayah?" 

"Dia putra saya. Anak tak tahu diuntung." Ayahnya Athar melontarkan cibiran.

Mas Faiz terlihat terkejut. "Putra?"

"Jadi, suaminya Chelsi ternyata anaknya Om?" 

"Kapan kamu menikah, Athar?" tanya pria tua itu usai mengerutkan dahi, menatapku dan Athar, silih berganti.

"Saya datang ke sini bukan untuk membahas hal itu, saya ke sini untuk meminta pertanggungjawaban seorang pria yang sudah dengan lancang men4mpar ibu saya!" Athar berteriak keras. 

"Ia bahkan juga men4mpar Chelsi." 

"Halah, Athar. Jangan lebay. Mereka hanya perempuan-perempuan tak berharga. Yang satu janda, dan yang satunya lagi calon janda. Ya, tidak lama lagi ibumu akan ayah ceraikan." 

Brak!

"Aaa!"

Para wanita yang ada di sini masing-masing menjerit ketika Athar menendang kursi, lalu menarik kerah kemeja yang ayahnya kenakan. 

Bersambung......

CERITA_MALAM

CERITA MALAM

Hallo perkenalkan saya dari akun reeepostofficial, saya disini mengisi waktu luang saya dengan sedikit menumpahkan buah pikiran saya melalui tinta bloger

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama

Popular Items

JATAH SEBELUM NIKAH