KEJUTAN SAAT AKU PULANG KAMPUNG


Kami memutuskan untuk naik ke atas. Melihat Ibu yang tengah tertidur pulas, membuatku tak tega untuk membangunkannya. 

Mila mendekat ke arah Ibu, lalu memeluknya. Aku bisa melihat, anak perempuan satu-satunya itu begitu merindukan Ibu. Saat Mila tak sengaja membuka baju Ibu, mataku membeliak melihat sesuatu di sana. Aku pun mendekat, untuk memastikan.

Luka memar apa ini? 

--

"Luka memang apa ini, Bang?" tanya Mila. 

Mungkin karena mendengar suara Mila, Ibu terbangun. Beliau terkejut karena baju bagian punggungnya terangkat. Ibu langsung duduk dengn susah payah. Aku sudah tak bisa menahan ini semua. 

"Bu, jujur lah sama Gani. Apa ini semua perbuatan Zahra?" 

Akhirnya, Ibu mengangguk. Air mataku langsung menetes, membayangkan kesakitan yang setiap hari dirasakan oleh ibu. Biarlah aku dianggap melow, daripada dianggap durhaka karena tak mementingkan ibu kandungku sendiri. 

"Bu, selama ini, Mbak Zahra melarang Ibu menemui kami?" tanya Fikri. 

Lagi-lagi, Ibu mengangguk. 

"Tapi kenapa, Bu?" 

"Ibu nggak tahu, Fik. Ibu juga kangen sama anak-anak Ibu. Tapi, Zahra justru menyiksa Ibu tiap Ibu bilang ingin bertemu dengan kalian. Bukan hanya punggung saja, tapi ini juga..." 

Ibu mengangkat baju bagian depannya, lalu terbuka lah semua luka itu. Aku memejamkan mata, tak tega melihat orang tua satu-satunya mengalami kesakitan itu, juga merasa bersalah karena Ibu mengalaminya karena kelalaianku. 

"Maafkan Gani, Bu. Seandainya saja Gani lebih memperhatikan, mungkin semua ini takkan terjadi," ucapku penuh penyesalan. 

"Tak apa, Nak. Ini sudah takdirnya. Yang terpenting sekarang, Ibu sudah bertemu kalian." 

"Bu, apakah Zahra suka membawa pulang laki-laki?" 

Ibu terdiam. Aku langsung tahu jawabannya. Jadi tadi siang bukan kali pertama Zahra membawa pulang lelaki itu. Padahal, semuanya telah kuberi untuknya. Kenapa ia masih jahat padaku dan juga keluargaku? 

Ting! 

Sebuah pesan masuk ke ponselku. Saat kulihat, itu dari Zahra. 

[Bang, kok uangnya belum dikirim?] 

Aku mengembuskan napas panjang. Jika dipikir-pikir, selama aku kerja di luar kota, ia tak pernah sekedar menanyakan kabarku. Ia menghubungi hanya ketika meminta uang saja. Selain itu, harus aku yang menghubungi terlebih dahulu. 

"Selama ini, Gani selalu menjatah Ibu setiap bulan, apa Zahra memberinya?" tanyaku, meski sudah tahu jawabannya. 

Ibu menggeleng, membuat Kamila dan Fikri beristigfar. Kedua adikku memang tak kuperbolehkan untuk memberi Ibu uang, karena hidup mereka pun pas-pasan karena harus membayar asisten rumah tangga juga. Keduanya tinggal di rumah lama kami, bertiga dengan seorang asisten rumah tangga. 

"Jadi, Ibu tak pernah membeli baju selama ini?" 

Aku berjalan menuju tas, lalu mengeluarkan baju ibu yang masih masuk dalam kategori layak pakai, karena yang lainnya sudah robek dan beberapa ada tambalan. 

"Ya Allah, Bu. Kalau tahu Ibu begini, mending tinggal sama Mila dan Fikri saja. Daripada tersiksa bersama menantu serakah itu," ucap Mila dengan nafas memburu. 

Ting!

Sebuah pesan masuk kembali, dari Zahra. 

[Kok cuma dibaca, Bang?] 

Segera kuketik balasan untuknya. 

[Kirimkan poto Ibu dulu, aku kangen.] 

Lama tak menjawab, pesanku hanya dibaca saja. Mungkin, di rumah sana Zahra tengah kelabakan karena Ibu tak ada di rumah. Aku tersenyum, memikirkan ia panik dan mencari jawaban atas pertanyaanku. 

[Ibu lagi tidur, Bang. Aku nggak enak mau ganggu. Tau sendiri, nanti Ibu marah.] 

Selalu begini. Ia selalu mengatakan ibu pemarah, padahal jelas-jelas aku sendiri tahu, bagaimana ibuku sebenarnya. 

[Nggak papa. Nanti kalau marah, biar aku nasehati.] 

Lama tak ada balasan, kutekan tombol video untuk menghubungkan kami melalui panggilan video. 

"Ha-halo, Bang," ucapnya menyapaku. Matanya melirik ke sudut, mungkin lelaki itu masih di sana. 

"Mana Ibu, Dek?" 

"Kan kata adek tadi, Ibu lagi tidur, Bang. Kalau Ibu marah karena Adek masuk kamar tanpa izin bagaimana?"

"Abang yang akan tanggung jawab," ucapku. 

"Tapi, Bang." 

"Kenapa? Karena Ibu ada sama aku?" tanyaku sambil mengarahkan kamera ke wajah Ibu. 

Sontak, Zahra berteriak. Ia terkejut sampai ponselnya terjatuh. Terbukti kini aku melihatnya dari bawah. 

"Ba-bang, kok Ibu sama Abang?" 

"Harusnya Abang yang tanya. Apa yang sudah kamu perbuat, Zahra Ahnatulissa?"


Bersambung....

CERITA_MALAM



CERITA MALAM

Hallo perkenalkan saya dari akun reeepostofficial, saya disini mengisi waktu luang saya dengan sedikit menumpahkan buah pikiran saya melalui tinta bloger

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama

Popular Items

JATAH SEBELUM NIKAH