AKU YANG KAU NODAI

Di malam hari itu, Akmal mendekat, semakin mendekat dan semakin rapat. Kakiku serasa terpaku di tempat ini, tanpa bisa bergeser sedikit pun.

Dia berdiri tepat di hadapanku, pandangan tak beralih. Sebenarnya, apa maunya? Kedua tangan terangkat dan mencengkeram bahuku, wajahnya menunduk dan terus menunduk.




"Ma-mau ngapain?" Aku tergagap, tetap tidak bisa beranjak.

"Buruan pindahkan pakaiannya, nanti Mas liat pemandangan luar biasa. 'Kan bajumu paling atas." Ia melepas tangan dan duduk di ranjang.

Aku malu karena berpikir macam-macam. Koper di luar pintu segera kuseret, membawanya masuk dan mulai memindahkan beberapa pakaianku.

Benar, pakaianku berada paling atas dan pastinya banyak barang pribadi.

Eh, sebentar, kok Akmal tau kalau dibagian atas tempat barang pribadiku? Jangan-jangan Akmal ....

"Kenapa, Dek?" tanyanya saat aku mencoba meliriknya. Ia sedang berbaring sambil memainkan kelopak bunga mawar, sebelah tangan sebagai bantal.

"Gak apa-apa."

"Lapar, gak?" tanyanya. Dia tanya apa menawarkan, sih. Jelas laparlah.

"Kita cari makan ke luar," ucapnya lagi, "sekalian pindahkan pakaian mas, ya? Mas mau nyari info warung makan terdekat dari sini."

Aku hendak memprotes tetapi handphone Akmal berdering. Ia keluar dengan mengangkat panggilan.

Memindahkan pakaiannya? 

***

Akmal menunggu di bawah. Maksudnya, rumah yang kami tempati berada di atas puncak, sedangkan harus berjalan kaki untuk menuruninya.

Akmal duduk di sebuah motor matic. Dari mana dia mendapatkan motor itu?

"Ayo, Dek. Mas sudah laper banget ini." Akmal menghidupkan motor yang dikendarainya.

"Ke mana ini?" tanyaku.

"Kata orang-orang tadi, sih, di bawah sana ada warung makan."

Aku membonceng di belakang, "pegangan, jalannya jelek," ucapnya sambil menarik sebelah tanganku untuk melingkari pinggangnya. 

Rasanya risih, terlebih tidak pernah sedekat ini sebelumnya. Maksudku ... setelah menikah. 

Akmal membawaku menyusuri jalan yang cukup ramai. Hanya berjajar rumah-rumah penduduk yang lumayan padat. Ia menghentikan motor di depan sebuah warung makan.

Kami tidak memesan menu makanan, melainkan mengambil menu sendiri yang sudah berjajar. Aku mengisi piring dengan sedikit nasi, sup dan ayam goreng. Di hadapan Akmal, sepiring nasi penuh dengan lauk pauk.

"Kenapa cuma sedikit makannya?"

"Iya," jawabku tak memberi alasan.

"Apa dibungkus saja?"

"Nggak usah."

"Nanti sekalian beli bahan mentah, biar mas nggak perlu sarapan di lokasi proyek."

"Iya. Kebetulan ada kulkasnya juga di rumah itu tadi." Balasku.

"Sengaja di kasih."

"Sengaja, berarti sebelumnya gak ada?"

Akmal hanya tersenyum makanan di piringnya tinggal setengahnya lagi.

"Sekarang dah banyak ngomong, ya? Mas seneng dengernya kalau Adek aktif begini."

Malah membahas yang lain. Tapi ... apa benar kalau aku terlihat lebih cerewet dari sebelumnya?

"Kan ada Adek. Tadinya rumah itu memang gak ada kulkas, tv juga tak ada. Mas yang minta supaya di isi perlengkapan seperti layaknya rumah."

"Biar?"

"Biar Adek betah."

Ya ampun, apa aku terlihat memaksanya untuk berkata jujur?

Nasi kutelan rasanya enggan melewati tenggorokan. Padahal piringku penuh dengan kuah sup. Dari setiap ucapan, sepertinya Akmal sengaja menggiringku untuk selalu berbicara lagi dan lagi.

***

Akmal membantuku memindahkan bahan-bahan ke dalam kulkas. Sepulang dari makan sore tadi, Akmal mengajakku ke pasar dadakan yang kebetulan kami lewati. Aku membeli sayur mentah untuk beberapa hari ke depan. Jadi, Akmal bisa sarapan dari rumah.

"Sudah, Dek." Akmal berdiri di belakangku yang masih berjongkok di depan kulkas.

"Sebentar lagi."

"Mas mau menunjukkan sesuatu." 

Aku mendongak ke belakang, "apa?" tanyaku penasaran. Apa Akmal akan membuat kejutan baru untukku, seperti rumah yang sebenarnya mirip villa ini?

"Ayo," ajaknya. 

Aku menutup pelan pintu kulkas, lalu berdiri menghadapnya. Akmal menarik pergelangan tanganku. 

Kok, aku merasa biasa saja ketika Akmal mulai memberi sentuhan-sentuhan kecil seperti ini. Padahal sebelumnya, reaksiku pasti berlebihan jika bersinggungan dengannya.

Akmal membawaku ke kamar. Tangannya cekatan membuka pintu jendela di salah satu sisi. Kemudian menarikku lagi agar lebih mendekat.

Netra membelalak penuh. Ada ratusan, entah juga ribuan kunang-kunang yang beterbangan dalam kegelapan. Hanya sorotan cahaya bulan yang menerangi sehingga lebih tampak kelap-kelipnya.

Akmal mendorong lagi sebelah jendela, hingga pemandangan lebih luas lagi. Bunga-bunga bermekaran yang kukira di samping rumah tadi, ternyata menjorok hingga belakang rumah. Dan malam ini, aku seperti di tempat yang benar-benar berbeda. Aku menoleh, mencari keberadaan Akmal, ternyata di ia sudah berdiri di belakangku. 

"Suka?" Pertanyaan yang singkat, tetapi banyak mengandung makna di dalamnya.

Aku mengangguk.

"Yang bagian mana?" Tangannya terulur melewati wajahku, menunjuk antara dua pilihan, bunga atau kunang-kunang.

"Dua-duanya," jawabku.

"Kalau aku ada yang lebih menarik dari keduanya," ucap Akmal sambil menarik tangan dan ... menunjukku.

Menunjukku?

Akmal tertawa lebar saat wajahku bergerak menjauh karena telunjuknya hampir mengenai hidungku.

Tiba-tiba, kedua tangan itu diletakkan di kedua sisi sehingga terlihat sekali caranya mengungkungku di depan jendela. Tubuhku bergetar seketika merasai gesekan-gesekan lembut antara punggungku dengan dadanya. 

Aku pernah mendapatkan sentuhan lebih daripada ini sebelumnya, walaupun sangat kasar. Saat peristiwa terenggutnya kehormatanku. 

Dan ... saat ini, aku merasai sentuhan-sentuhan itu lagi, tetapi dalam bentuk yang lebih sederhana, sangat lembut.

Aku merasa jantungku memompa lebih cepat, menghasilkan irama yang tak lagi selaras. Bahkan detak jantung Akmal pun kini terdengar olehku. Aku merapatkan diri ke jendela, menghindari sentuhan-sentuhan ini, tetapi malahan, Akmal merangsek maju hingga memapas jarak. 

Tangannya malah semakin mempersempit kungkungan, membuatku tidak bisa bergerakak ke sisi manapun.

"Mas kepengen, hubungan kita menjadi lebih baik," ucapnya berbisik, tetapi sangat jelas terdengar karena Akmal berucap tepat di sisi kanan wajahku. Aku tidak berani menoleh. Takut akan bersinggungan dengan wajahnya. 

"Dek ... kasih respon, dong, kayak tadi siang."

Akmal menoleh. Hembusan nafasnya menerpa pipi kananku. Aku, jangankan menoleh, melirik pun tidak berani. 

"Aku," ucapku menggantung.

"Adek ... kenapa?"

Sepertinya, Akmal memang sengaja mengejar jawabku. Ia terus menatap, tak berpindah arah.

Ia merogoh saku bajunya,  mengeluarkan handphone yang ternyata bergetar.

Di depan mataku, Akmal menampakkan siapa gerangan di balik panggilan itu.

Vidia!

"Sebentar."

Akmal memundurkan tubuhnya, menjauh dan mengangkat telepon di depan pintu. Ia tampak serius sekali. Cukup lama bagiku. Seketika itu juga, aku merasai nyeri hingga ke dasar hati.

Vidia adalah mantan kekasih Akmal. Mereka ... masih berhubungan?

Terlihat Akmal mengakhiri panggilan, tetapi tidak berpindah pandang dari benda pintar itu. tangannya disibukkan mengetik sesuatu.

Kenapa sesakit ini hanya melihat nama wanita itu terpampang di layar handphone Akmal. Otakku langsung merekam kejadian masa itu. Ketika mereka menjadi sepasang kekasih. Di mana lengan kokoh Akmal menjadi tempat bergelayut jemarinya yang lentik dan putih. Tawa mengiringi setiap hentak kaki yang melangkah, melewati seorang gadis lain yang selalu mengintip di balik jendela kelas. 

"Mas ...." Panggilanku membuat benda dalam genggamannya hampir terlepas.

"Iya," jawabnya.

Akmal menyimpan benda itu kembali ke sakunya. Aku yakin, dia masih berbalas pesan dengan Vidia.

Apakah aku harus berkata jujur jika aku merasa sakit akan hal ini, ataukah pura-pura biasa saja?

Seandainya jujur padanya, Akmal pun akan tetap mengulang kenang dengan sang mantan.  Buktinya, mereka masih berhubungan sampai saat ini. Lalu, untuk apa keberadaanku di sisinya?


Bersambung......

CERITA_MALAM





CERITA MALAM

Hallo perkenalkan saya dari akun reeepostofficial, saya disini mengisi waktu luang saya dengan sedikit menumpahkan buah pikiran saya melalui tinta bloger

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama

Popular Items

JATAH SEBELUM NIKAH